Chapter 3
Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , Jumat, 24 Juni 2011 20.42
Rumah itu kumuh, sebagian temboknya telah gompal-gompel di sana-sini. Lantainya dari semen dan kondisinya tidak lebih baik dari temboknya. Dengan cat kusam dan atap yang beberapa bagiannya melambai, menjuntai ke bawah, kita bisa langsung paham, penghuninya tak pernah punya duit untuk memperbaikinya.
Seorang bocah laki-laki kecil, ingusan, hitam dan kotor bermain-main di sofa yang sudah rusak. Seorang anak kecil lagi, kali ini perempuan keluar dari kamar, langsung duduk di lantai di depan bocah laki-laki tadi. Dia bermain dengan bonekanya yang sama kumalnya dengan dirinya.
"Teteeeeeeeeeeeeeeeehhh!!" teriak bocah laki-laki itu.
"Apa bleguuuk!!" sebuah suara menjawab dari dalam kamar, tak kalah kencang dengan suara adiknya.
"Duiiitttt!!" balas bocah laki-laki itu.
"Ga ada. Duit teruss!! Pagi 3 ribu, siang lima rebu. sekarang masih minta lagi." Lina keluar dari kamarnya dengan raut muka amburadul. Tank top hitam yang dipakainya kelihatan acak-acakan. Sambil ngomel-ngomel pada adiknya, tangannya masih sibuk memencet-mencet tombol HP.
Adiknya ada tiga orang. Yang pertama Dina, duduk di kelas 6 SD, lalu Toni, masih kelas 3, dan yang terakhir, yang tadi menjerit-jerit histeris, belum sekolah. Sudah 6 tahun, tapi belum pernah masuk Taman Kanak-kanak. Sang ibu bekerja jauh di negeri orang, negeri para nabi dan orang-orang mulia, Arab Saudi sebagai TKW.
Sekarang adalah masa penerimaan murid baru untuk tahun ajaran baru. Dan yang menjadi tren tahun baru adalah tingkat kepusingan yang meningkat dalam kepala para orang tua yang anaknya akan masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Mulai dari memilih sekolah yang cocok, yah minimal cocok dengan nilai yang diperoleh anaknya dalam Ujian Akhir Sekolah dan cocok dengan kondisi keuangan mereka. Sekolah Gratis yang diagung-agungkan, digadang-gadang oleh setiap partai peserta pemilu dalam kampanye memnag layaknya pepesan kosong melompong.
Nyatanya tidak ada yang gratis di Indonesia bung?
Jika masyarakat pusing apalagi pemerintahnya. Lebih pusing lagi. Menjelang tahun ajaran baru dan menjelang bulan Ramadhan tahun ini banyak masalah yang menyita perhatian pemerintah. Kasus partai penguasa, Demokrat, semakin membawa "image-oriented-president" SBY menjadi bulan-bulanan media dan juga lawan-lawan politiknya yang mulai berani menunjukkan taring tajam mereka.
Apa yang terjadi sesungguhnya dalam setiap kasus yang terjadi "nobody knows". Semua berita menjadi simpang siur dan membuat masyarakat kalang kabut dalam menangkap kebenaran.
Nazarudin kemarin bernyanyi lagi dan membuka sebuah wacana baru dalam kasus suap wisma Atlet. Bola liar yang menggelinding semakin liar dengan ramainya pro-kontra pernyataan Nazarudin yang terus terang membuatku salut dan terharu.
Negeri ini memang semakin kacau!!!
Tapi Karlina tidak peduli. Walau dalam kondisi yang memprihatinkan, dia tetap bersikeras bisa sekolah di SMA. Apa yang ada dibenaknya tidak ada yang tahu. Pun bagaimana hari ini dia merencanakan sebuah rencana agar mendapatkan uang untuk mendaftar di SMA Pelita Ilmu.
Dari tadi pagi, kepalanya terus berputar-putar, menggeleng-geleng, berkata ya untuk sebuah taktik dan kemudian tidak jika dia rasa rencananya tidak akan berhasil.
Adiknya yang tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya terus merengek meminta duit. Karlina naik pitam dan langsung membentak.
Sebentar kemudian kakinya hampir tiba-tiba melonjak, jantungnya tiba-tiba seakan lepas, kepalanya langsung terasa ringan seperti ditiupkan gas helium ke dalamnya.
Dia telah mendapatkan sebuah "ide yang begitu brilian". Menurutnya....

Posting Komentar