Chapter 2

Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , Kamis, 23 Juni 2011 11.37

Karawang, sebagai bagian dari wilayah Indonesia terkenal dengan kesan eksotisnya. Lagu "Goyang Karawang" yang dipopulerkan oleh Lilis Karlina begitu melekat dengan stigma Karawang dan pada saat itu karena lagu Goyang Karawang pula, Lilis Karlina menjadi populer. Sebetulnya banyak sebutan lain untuk Karawang ini. Kota Pangkal Perjuangan, Lumbung Padi Nasional. Tapi Goyang Karawang tampaknya menjadi title yang paling populer untuk Karawang. Tak percaya? Setiap kali berkenalan dengan orang baru, saat aku menyebut asalku dari Karawang, pasti mata orang itu langsung lirak-lirik nakal. Karawang? Goyang maaaangg!!! Tariiiik!!

Coba aja simak lirik lagu "Goyang Karawang" ini :


GOYANG KARAWANG

Kalo ingat akang ke tanah sunda 
Jangan lupa akang, kota Karawang 
Kota sejarah dan perjuangan 
Punya tradisi goyang Karawang 

Dari dahulu sehingga sekarang
Goyang Karawang tetap disenang 
Goyang kiri eta goyang kanan 
Geol kiri eta geol kanan 
Goyang goyang goyang goyang goyang 

Air laut aduh asin sendiri 
Boleh dicoba kalaulah sudi 
Goyang Karawang itu tradisi 
Perlu diingat jangan dicaci 

Goyang Karawang jadi hiburan 
Gendangnya dangdut seiring suling 
Kalau goyang-goyang memakai aturan 
Perut yang gendut menjadi langsing 

Goyang Karawang jaman sekarang
Dicampur dangdut dan jaipongan 
Asyik goyang goyang lupa punya utang 
Biar perut kosong keroncongan 

Goyang Karawang menarik hati 
Seiring nada silih berganti 
Mengajak anda untuk berjoget 
Goyang Karawang tetap disenang




Asyik khan?
Well.
Satu fakta yang pasti Goyang Karawang itu asyik.
Ada satu kemiripan yang aku suka dalam cerita ini. Karlina yang merupakan tokoh nyata dalam cerita ini, entah memang Tuhan sudah memberiku petunjuk atau tidak, namanya mirip dengan pedangdut Lilis Karlina. Aku rekomendasikan Karlina, dalam tahun-tahun mendatang bisa menjadi ikon kota Karawang seperti Lilis Karlina yang menjadi ikon Goyang Karawang.
Bukan sekali ini saja, aku menjumpai remaja belia Karawang yang tumbuh dewasa sebelum waktunya seperti Karlina. Budaya permisif yang berlebihan sangat mendukung remaja-remaja putri Karawang satu atau tiga tahun lebih awal tumbuh tanda-tanda kewanitaannya dibandingkan dengan remaja putri kota lain. Kota Karawang menghasilkan HORMON lebih banyak dari pada kota-kota lain.
Sok tahu!
Menurut sumber yang dapat kita percaya, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh sosial budaya masyarakat Karawang. Kaum pribumi asli Karawang semakin terpinggirkan dengan banyaknya pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa. Sangat kontras dengan penduduk asli yang selama ini terbuai dengan buaian alam yang subur makmur, tidurpun kau bisa makan, padi tinggal panen, buah tinggal petik, sayur tinggal poklek, mereka menjadi malas.
Satu-per satu, sejengkal demi sejengkal aset dan tanah mereka berpindah tangan, berganti nama, pun sampai akhirnya mereka tersadar, mereka tak sadar jua. Sudah terlambat!! Mau apalagi!!
Mata melirik, pikiran berputar-putar, pandangannya tertuju pada anak gadisnya yang molek. WAAAOOOO!!! Satu aset yang masih bisa dimanfaatkan.
Dan begitulah... kenapa ada gadis Karawang usia 16 tahun bertekuk lutut di pelukanku dengan segunung restu dari orang tuanya. Wajahnya duabelas-tiga belas dengan Maudy Kusnadi, Bodynya juga. Kami bisa berduaan di kamar, nonton TV dan sebagainya berdua saja. Alangkah Romantisnya.
Orang tuanya?
Mereka sengaja menyingkir, memberi kesempatan padaku untuk memadu kasih dengan anak gadisnya yang belum cukup umur.
Kepengen ya?
Datang saja ke Karawang. Temui aku dan akan aku tunjukan mereka, para gadis itu. Kamu tinggal pilih, asal dompetmu tebal, tak akan ada kata penolakan.
Cinta terbalas!!!
Simple dan sederhana.
Memang begitulah seharusnya cinta.
Tak perlu patah hati.
Karena disini kamu tidak harus punya hati untuk mencintai dan dicintai.
Cukup tunjukan berapa gocapan yang kamu punya.
Besarnya cinta berbanding lurus dengan jumlah gocapan di balik saku celanamu.
Hidup GOCAPAN!!


0 Response to "Chapter 2"

Posting Komentar