In the arms of the angels

Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , Senin, 11 Juli 2011 01.53

She wants to go as far as she can
until ....
she can sing and dance
around her beloved man
oh man!
her true knight who ...
can make her laugh like hurricane
Ah.....
She will wait so far.. 
nobody came
the bastard nor the man

Lagu in the arms of the angel sejenak akan mengobati kesedihan my beloved character : Lolina



IN THE ARMS of An ANGEL

Spend all your time waiting for that second chance 

For the break that will make it ok

There's always some reason to feel not good enough 
And it's hard at the end of the day 
I need some distraction oh beautiful release 
Memories seep from my veins 
They may be empty and weightless and maybe 
I'll find some peace tonight 



In the arms of an Angel fly away from here 

From this dark, cold hotel room, and the endlessness that you fear 
You are pulled from the wreckage of your silent reverie 
You're in the arms of an Angel; may you find some comfort here 



So tired of the straight line, and everywhere you turn 

There's vultures and thieves at your back 
The storm keeps on twisting, you keep on building the lies 
That you make up for all that you lack 
It don't make no difference, escaping one last time 
It's easier to believe 
In this sweet madness, oh this glorious sadness 
That brings me to my knees 



In the arms of an Angel far away from here 

From this dark, cold hotel room, and the endlessness that you fear 
You are pulled from the wreckage of your silent reverie 
In the arms of an Angel; may you find some comfort here 



You're in the arms of an Angel; may you find some comfort here 



Chapter 3

Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , Jumat, 24 Juni 2011 20.42

Rumah itu kumuh, sebagian temboknya telah gompal-gompel di sana-sini. Lantainya dari semen dan kondisinya tidak lebih baik dari temboknya. Dengan cat kusam dan atap yang beberapa bagiannya melambai, menjuntai ke bawah, kita bisa langsung paham, penghuninya tak pernah punya duit untuk memperbaikinya.
Seorang bocah laki-laki kecil, ingusan, hitam dan kotor bermain-main di sofa yang sudah rusak. Seorang anak kecil lagi, kali ini perempuan keluar dari kamar, langsung duduk di lantai di depan bocah laki-laki tadi. Dia bermain dengan bonekanya yang sama kumalnya dengan dirinya.
"Teteeeeeeeeeeeeeeeehhh!!" teriak bocah laki-laki itu.
"Apa bleguuuk!!" sebuah suara menjawab dari dalam kamar, tak kalah kencang dengan suara adiknya.
"Duiiitttt!!" balas bocah laki-laki itu.
"Ga ada. Duit teruss!! Pagi 3 ribu, siang lima rebu. sekarang masih minta lagi." Lina keluar dari kamarnya dengan raut muka amburadul. Tank top hitam yang dipakainya kelihatan acak-acakan. Sambil ngomel-ngomel pada adiknya, tangannya masih sibuk memencet-mencet tombol HP.
Adiknya ada tiga orang. Yang pertama Dina, duduk di kelas 6 SD, lalu Toni, masih kelas 3, dan yang terakhir, yang tadi menjerit-jerit histeris, belum sekolah. Sudah 6 tahun, tapi belum pernah masuk Taman Kanak-kanak. Sang ibu bekerja jauh di negeri orang, negeri para nabi dan orang-orang mulia, Arab Saudi sebagai TKW.
Sekarang adalah masa penerimaan murid baru untuk tahun ajaran baru. Dan yang menjadi tren tahun baru adalah tingkat kepusingan yang meningkat dalam kepala para orang tua yang anaknya akan masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Mulai dari memilih sekolah yang cocok, yah minimal cocok dengan nilai yang diperoleh anaknya dalam Ujian Akhir Sekolah dan cocok dengan kondisi keuangan mereka. Sekolah Gratis yang diagung-agungkan, digadang-gadang oleh setiap partai peserta pemilu dalam kampanye memnag layaknya pepesan kosong melompong.
Nyatanya tidak ada yang gratis di Indonesia bung?
Jika masyarakat pusing apalagi pemerintahnya. Lebih pusing lagi. Menjelang tahun ajaran baru dan menjelang bulan Ramadhan tahun ini banyak masalah yang menyita perhatian pemerintah. Kasus partai penguasa, Demokrat, semakin membawa "image-oriented-president" SBY menjadi bulan-bulanan media dan juga lawan-lawan politiknya yang mulai berani menunjukkan taring tajam mereka.
Apa yang terjadi sesungguhnya dalam setiap kasus yang terjadi "nobody knows". Semua berita menjadi simpang siur dan membuat masyarakat kalang kabut dalam menangkap kebenaran.
Nazarudin kemarin bernyanyi lagi dan membuka sebuah wacana baru dalam kasus suap wisma Atlet. Bola liar yang menggelinding semakin liar dengan ramainya pro-kontra pernyataan Nazarudin yang terus terang membuatku salut dan terharu.
Negeri ini memang semakin kacau!!!
Tapi Karlina tidak peduli. Walau dalam kondisi yang memprihatinkan, dia tetap bersikeras bisa sekolah di SMA. Apa yang ada dibenaknya tidak ada yang tahu. Pun bagaimana hari ini dia merencanakan sebuah rencana agar mendapatkan uang untuk mendaftar di SMA Pelita Ilmu.
Dari tadi pagi, kepalanya terus berputar-putar, menggeleng-geleng, berkata ya untuk sebuah taktik dan kemudian tidak jika dia rasa rencananya tidak akan berhasil.
Adiknya yang tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya terus merengek meminta duit. Karlina naik pitam dan langsung membentak.
Sebentar kemudian kakinya hampir tiba-tiba melonjak, jantungnya tiba-tiba seakan lepas, kepalanya langsung terasa ringan seperti ditiupkan gas helium ke dalamnya.
Dia telah mendapatkan sebuah "ide yang begitu brilian". Menurutnya....

Chapter 2

Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , Kamis, 23 Juni 2011 11.37

Karawang, sebagai bagian dari wilayah Indonesia terkenal dengan kesan eksotisnya. Lagu "Goyang Karawang" yang dipopulerkan oleh Lilis Karlina begitu melekat dengan stigma Karawang dan pada saat itu karena lagu Goyang Karawang pula, Lilis Karlina menjadi populer. Sebetulnya banyak sebutan lain untuk Karawang ini. Kota Pangkal Perjuangan, Lumbung Padi Nasional. Tapi Goyang Karawang tampaknya menjadi title yang paling populer untuk Karawang. Tak percaya? Setiap kali berkenalan dengan orang baru, saat aku menyebut asalku dari Karawang, pasti mata orang itu langsung lirak-lirik nakal. Karawang? Goyang maaaangg!!! Tariiiik!!

Coba aja simak lirik lagu "Goyang Karawang" ini :


GOYANG KARAWANG

Kalo ingat akang ke tanah sunda 
Jangan lupa akang, kota Karawang 
Kota sejarah dan perjuangan 
Punya tradisi goyang Karawang 

Dari dahulu sehingga sekarang
Goyang Karawang tetap disenang 
Goyang kiri eta goyang kanan 
Geol kiri eta geol kanan 
Goyang goyang goyang goyang goyang 

Air laut aduh asin sendiri 
Boleh dicoba kalaulah sudi 
Goyang Karawang itu tradisi 
Perlu diingat jangan dicaci 

Goyang Karawang jadi hiburan 
Gendangnya dangdut seiring suling 
Kalau goyang-goyang memakai aturan 
Perut yang gendut menjadi langsing 

Goyang Karawang jaman sekarang
Dicampur dangdut dan jaipongan 
Asyik goyang goyang lupa punya utang 
Biar perut kosong keroncongan 

Goyang Karawang menarik hati 
Seiring nada silih berganti 
Mengajak anda untuk berjoget 
Goyang Karawang tetap disenang




Asyik khan?
Well.
Satu fakta yang pasti Goyang Karawang itu asyik.
Ada satu kemiripan yang aku suka dalam cerita ini. Karlina yang merupakan tokoh nyata dalam cerita ini, entah memang Tuhan sudah memberiku petunjuk atau tidak, namanya mirip dengan pedangdut Lilis Karlina. Aku rekomendasikan Karlina, dalam tahun-tahun mendatang bisa menjadi ikon kota Karawang seperti Lilis Karlina yang menjadi ikon Goyang Karawang.
Bukan sekali ini saja, aku menjumpai remaja belia Karawang yang tumbuh dewasa sebelum waktunya seperti Karlina. Budaya permisif yang berlebihan sangat mendukung remaja-remaja putri Karawang satu atau tiga tahun lebih awal tumbuh tanda-tanda kewanitaannya dibandingkan dengan remaja putri kota lain. Kota Karawang menghasilkan HORMON lebih banyak dari pada kota-kota lain.
Sok tahu!
Menurut sumber yang dapat kita percaya, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh sosial budaya masyarakat Karawang. Kaum pribumi asli Karawang semakin terpinggirkan dengan banyaknya pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa. Sangat kontras dengan penduduk asli yang selama ini terbuai dengan buaian alam yang subur makmur, tidurpun kau bisa makan, padi tinggal panen, buah tinggal petik, sayur tinggal poklek, mereka menjadi malas.
Satu-per satu, sejengkal demi sejengkal aset dan tanah mereka berpindah tangan, berganti nama, pun sampai akhirnya mereka tersadar, mereka tak sadar jua. Sudah terlambat!! Mau apalagi!!
Mata melirik, pikiran berputar-putar, pandangannya tertuju pada anak gadisnya yang molek. WAAAOOOO!!! Satu aset yang masih bisa dimanfaatkan.
Dan begitulah... kenapa ada gadis Karawang usia 16 tahun bertekuk lutut di pelukanku dengan segunung restu dari orang tuanya. Wajahnya duabelas-tiga belas dengan Maudy Kusnadi, Bodynya juga. Kami bisa berduaan di kamar, nonton TV dan sebagainya berdua saja. Alangkah Romantisnya.
Orang tuanya?
Mereka sengaja menyingkir, memberi kesempatan padaku untuk memadu kasih dengan anak gadisnya yang belum cukup umur.
Kepengen ya?
Datang saja ke Karawang. Temui aku dan akan aku tunjukan mereka, para gadis itu. Kamu tinggal pilih, asal dompetmu tebal, tak akan ada kata penolakan.
Cinta terbalas!!!
Simple dan sederhana.
Memang begitulah seharusnya cinta.
Tak perlu patah hati.
Karena disini kamu tidak harus punya hati untuk mencintai dan dicintai.
Cukup tunjukan berapa gocapan yang kamu punya.
Besarnya cinta berbanding lurus dengan jumlah gocapan di balik saku celanamu.
Hidup GOCAPAN!!


Chapter 1

Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , Minggu, 19 Juni 2011 19.21

Burung itu terbang dengan sayap yang terluka. Entah mengapa, setiap orang yang beruntung melihatnya, berkata "Indah sekali burung itu".

"Hei!!!" seorang siswi SMP berteriak. Ia berlari dari pintu gerbang sekolahan mengejar teman-temannya yang sudah lebih dulu.
"Apaan sih?", balas salah seorang temannya dalam gerombolan itu.
"Mau kemana kita?" siswi yang berlari tadi bertanya sambil terengah-engah. Namanya Lina. Karlina. Kita bisa memanggilnya Lina. Guru-gurunya biasa memanggilnya dengan nama lengkap, terutama saat mengabsen. Tapi, adik-adik kelasnya punya panggilan yang lebih keren buatnya. "Jablay Senior". Jablay-jablay yang lain, yunior, still. You know what I mean.
"Kemana aja kali. Lulus, madam. Lo punya duit ga?", teman Lina, Vita, bertanya dengan mata mendelik.
Berbeda dengan Lina yang hitam manis, tinggi semampai dengan pinggul nan aduhai, Vita itu putih, tidak begitu tinggi, pinggul tidak begitu aduhai, tapi manis. Tapi kalo urusan warna kulit memang gak bisa dibandingin, putih ama hitam. Jauh nian. Sawo matang dan sawo mentah, mungkin bisa.
"Kagak. Lo?" tanya Lina. Sejurus kemudian, sambil tersungging, benar-benar tersungging, bibir sebelah kiri agak terangkat (bayangkan sendiri deh), dia mengeluarkan HP yang tadi diumpetin di saku rahasia tasnya. Teman-temannya sudah mafhum, jika Lina sudah mulai mengeluarkan gaya tersungging macam begitu artinya "kamu bisa andalkan aku untuk masalah kalian, jablay menyedihkan!". Teman-temannya nyengir.
Sebentar kemudian mereka sudah ngobrol lagi.
Kelima cewek itu, Vita, Lina, Neneng, Teti, Vitri baru lulus dari Sekolah Menengah Pertama Islam Al Hasanat, Karawang. Masalah nilai jangan ditanya. Buagus semua. Kelima anak itu cerdas. Ah.. tapi yang cerdas itu guru-gurunya. Kelemahan mereka cuma  kadang-kadang malas. Yang malasnya suka kelewatan paling cuma si Teti.
Karena LULUS, tentu saja mereka bahagia sekarang. Tapi tak ada luapan kegembiraan. Hanya bahagia saja. Satu beban telah lepas dari pundak mereka.
Masalahnya, beban mereka bukan cuma satu.
Vita, si anak broken home yang harus tinggal dengan ayah tirinya sejak kelas 2 SD.
Lina, Tipe pemberontak sejak kecil, karena tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya, walaupun ayahnya selalu di rumah. Adik-adiknya banyak, dan semuanya terus menengadahkan tangan kepadanya, bukan ke orang tuanya. Karena memang hal itu percuma saja, sampe guling-guling juga gak bakalan dikasih duit.
Neneng, orang tuanya tidak pernah punya rumah. Hampir tiap tahun mereka berganti kontrakan.
Teti. Untuk yang satu ini, speechless, semua permasahan ada di dia tampaknya. Adik-adik banyak, ayah sudah tiada. Dan kesialan paling sial buat Teti, seperti kata Lina, wajahnya tidak begitu cantik, alias kurang cantik, ah to the point aja deh, wajah Teti jelek, tidak seksi, cuma pantat aja yang gede.
Vitri, least than others. Masalah satu-satunya hanya orang tuanya kurang mampu, tapi masih bisa memberi makan, menyekolahkan dan menyediakan pakaian. Minimal, kemana-mana Vitri tidak harus telanjang sambil memegangi perutnya karena kelaparan. Lah, berlebihan banget penggambarannya yah?
"Sudah?" Tanya Neneng yang kalem. Kayaknya Neneng memang kalem dari lahir. Tak banyak bicara, tak banyak tingkah, tapi kalo udah kumat, norak habis. Ntar sebentar lagi noraknya pasti ketahuan.
"Beres! Kita ke Cimol yuk. Tapi ngambil duit di bank dulu. Bank Fadli hehehe," tukas Lina sambil sedikit pongah. Memang begitu gayanya. Nyungging sambil membusungkan dada. Padahal dadanya sudah cukup busung.(Cimol, Cikampek Mall. red)
"Cimol deui, cimol deui. Bosen dah!" sungut Teti. Dia tipe cewek rumahan. Karena lokasi pacarannya hanya seputar kebun belakang, kebun depan, teras rumah dan muter-muter disitu. Kalo gak inget umur, mungkin sesekali maen petak umpet sama pacar-pacarnya yang semuanya berasal dari kelas alas kaki. Dia sudah bosen sebenarnya, karena tiap kali pacaran kalau gak ngelihat pohon singkong ya lihat pohon Jambu. Cuman kenangannya susah dilupakan, walaupun cuma ngelihat pohon singkong, hatinya berdesir-desir, karena jemari Teti dan pacarnya saling mendekat, melekat, melumat dan penuh keringat. Eit!! Jari doang. (red: deui : lagi)
"Ke Setu Kamojing aja Yuk!!" usul teti. "Kita poto-poto, keren!" usul Vita, cewek paling normal di antara kelima anak aneh itu.
"Ngapain ke Kamojing?" Tanya Vitri sambil mendongak. Dia yang paling pendek, mungil dan manis. Slurrp!!
"Poto-poto! Khan udah dibilangin ama Vita,"sergah Neneng, tidak tahan dengan penyakit "telmi" Vitri. Ingatan Vitri dalam obrol-mengobrol memang hanya bertahan sepersekian menit. Payah banget.
"Yuk!! Kita naik angkot sekarang." Kata Vita tak tahan, pengen cepet-cepet cabut. Ya ialah, penyakit beser dia kambuh.
"Naik angkot pake daun," bantah Lina,"tunggu Bang Fadli, paling bentar lagi doi nyampe."
"Doi!" koor empat anak lainnya.
"Ya, doi ke tiga belas," ketus Lina.
"Sial banget nih doi." Neneng menggerutu.
"Biarin!!" Bantah Lina.

Dari jauh kelihatan sebuah Vixion meluncur dengan tegap. Lina nyengir lagi. Doi ketigabelasnya datang. Cowok 25 tahunan, nangkring dengan gaya sok jago, padahal badannya kecil sauprit, jadi lebih pantas disebut nyangkut tuh cowok. Vixion terlalu gagah. Nggak matching sama sekali. Setelah lumayan dekat, Fadli buru-buru tersenyum dengan indah yang disambut dengan senyum yang tak kalah indahnya oleh Lina. Lina mendekat dan merapat. Hampir sempoyongan Fadli menahan badan Lina dan Vixionnya. Setelah bermanja-manja sebentar, Fadli langsung starter motornya dan Lina kembali dengan langkah seperti melayang ke teman-temannya. Doi ketiga belas Lina menjadi penyelamat.
"Yuk naik angkot." Ajak Lina.
Kelima anak itu bergembira di setu Kamojing.

Besok, tak akan sama lagi.

Tentang Cerita Ini

Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , 19.00

Well!!

Aku mau jujur dengan kalian. Kisah, terutama substansi dari cerita ini asli. Berdasarkan kisah nyata yang aku alami sendiri. Tokoh-tokoh dalam cerita ini (jablay-jablay norak tapi cerdas) sangat real. So, You can contact me if you want to know them more.
Dengan senang hati aku bisa memperkenalkan kalian dengan mereka.
Akan tetapi sebelum hal itu aku lakukan ada baiknya, kalian semua membaca setiap bagian dari cerita ini. Agar kalian bisa tahu dengan baik karakter mereka semua.
Mereka senang apabila kita memahami mereka. Dan siapa tahu dari semua tokoh yang ada disini ada yang jatuh cinta dengan kalian.
Kejadian yang aku ceritakan berlangsung selama tahun 2010-2011. Cuma setting yang aku ambil adalah pertengahan tahun 2011. Susah kali mengingat semua hal yang terjadi setahun yang lalu.
Tapi.....
Aku yakin satu tahun yang lalu dengan tahun ini tidak jauh berbeda. Dalam hal:
  • Kondisi kita masih sama, carut-marut tak keruan
  • Pendidikan untuk anak bangsa ini belum berubah, penuh intrik, penuh tipu-tipu dan manipulasi, baik dari murid dan lebih gila dari para guru, kepala dinas, pemerintah, menteri bahkan presiden
  • secara ekonomi pertumbuhan kelas bawah dalam kasta masyarakat kita tidak pernah naik satu jengkalpun ke atas
  • Hukum tidak ditempatkan sebagaimana mestinya. Kasus hukum kebanyakan skenario dan belum lepas dari dua hal besar : korupsi dan skandal seks
  • Video perilaku mesum masih dan terus bermunculan, vis-a-vis budaya mesum memang sudah menjadi budaya pengganti dari ramah tamah, malu, menjaga norma dan sebagainya.
  • Tidak ada satu segmenpun dalam penataan pelaksaan ketatanegaraan kita yang benar-benar bersih
  • Partai-partai belum sadar juga bahwa mereka selama ini sibuk men-jablay
  • Para anggota dewan masih tidak lebih pintar dari konstituen yang diwakilinya
  • Budaya molor, hedonisme, pragmatisme semakin banyak saja jumlah pengikutnya
  • Well, jablay-jablay belia dalam cerita ini benar-benar potret tepat untuk semua kondisi di atas.
  • Aku suka mereka, karena aku ORANG INDONESIA
Jadi selamat membaca saja lah!!
Merdeka!!

Musim Yang Bahagia (Sebuah Permulaan)

Diposting oleh Lolita Cerita Nyata , 10.23

Di kala senja dimusim yang bahagia
Cinta datang menjemputku
Dia tebarkan seribu senyum indah
Yang membuat luluh hatiku

Ku merasakan adanya getar cinta
Tuhan berikan petunjuk
Ketika dirinya menjadi yang terbaik
Untuk hidup selamanya

Reff
Kasihku jangan kau bohongi aku
Karena ku benar-benar cinta kepadamu
Ku harap jangan kau tinggalkan aku
Karena ku cintaimu selamanya

Ku merasakan adanya getar cinta
Tuhan berikan petunjuk

Back to Reff 2x

Karena ku cintaimu selamanya